Selasa, 06 Maret 2018

Kala Duta Pengkaderan tidak tercetak secara optimal

Bismillaahirrohmanirrohim

Manusia hanya bisa berencana, Namun pada akhirnya Rencana Allaah SWT yang lebih baik untuk kita syukuri dan ambil ibrahnya.

Rencana muswil kammi jabar pada saat ini dibenturkan dengan Dpmk di sukabumi, dm1 bandung dan dm1 bogor. Adanya muswil adalah sebuah momentum berharga, karena disini bukan hanya sekedar membacakan LPJ, Tartib dan terpilihnya ketumwil jabar yang baru. namun lebih dari itu kawan, sejatinya moentum muswil ini adalah momentum lahirnya duta-duta pengkaderan di jabar. mereka akan senantiasa mengawal pengkaderan jabar lebih baik dan progressif

namun ketika agenda jantung dari kaderisasi ini memang sengaja di benturkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan tersendiri. Maka sungguh hal ini memberi dampak yang kurang sehat dalam jalannya prosedural organisasi, munculnya pertanyaan-pertanyaan dari beberapa orang yang dirugikan tentu saja membuahkan kekecewaan tersendiri.

walaupun pada saat itu juga selalu ada orang-orang yang memaksakan diri untuk bersikap optimis. dan merasa bahwa semua itu akan berjalan dengan baik. Subhanalloh

hanya lewat tulisan ini saya dapat mengekspresikan pikiran dan hati saya.
semoga menjadi nilai aspirasi buat mereka yang mempunyai kebijakan dalam hal ini.

Sesungguhnya Allaah beserta orang-orang yang sabar...

Senin, 21 Januari 2013

Kala Ali Telat Subuh Berjama'ah


Dini hari itu Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.
Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.
Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.
Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.
Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.
Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.
Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”
Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”
“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”
Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”
Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”
Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”
Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”
Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.
dakwatuna.com

Beranda

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Episode perjalanan cinta telah teriring dalam kehidupanku. Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari hingga tahun terus berganti. Momen ini tidak ingin kusimpan sendiri, menyebar ibroh mengandung hikmah untuk kehidupan bersama.

menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. tidak semudah membalikan telapak tangan. proses ini diawali dengan kemurnian niat, tekad yang tajam, pikiran yang matang dan tindakan yang baik dan benar. semua ini terukir dalam kisah nyata yang akan ananda bagikan ke sahabat sekalian

Tak ada gading yang tak retak, fitrah manusia pun memiliki kelemahan didalamnya. Hal ini menyadari kita semua bahwa sikap saling menguatkan bukanlah hal yang sepele dan sungguh kebaikan dan kebenaran tidak semata-mata diawali dari sebuah kesuksesan semata. kemurnian sebuah proses akan terlihat jika diri ini terus diasah dari banyak kegagalan-kegagalan yang diraih.
Cerahkan harimu, Tetaplah Semangat,,

#Harapan itu masih ada

Wasalamu'alaikum Wr.Wb.